Damai Lubis: Indikator Perang Iran vs Israil-Amerika Tidak Bakal Menjelma Perang Dunia Ke-3 Melainkan Terakhir
Ahad, 29 Maret 2026
Faktakini.info
*Indikator Perang Iran vs Israil-Amerika Tidak Bakal Menjelma Perang Dunia Ke-3 Melainkan Terakhir*
Damai Hari Lubis (Ketua KORLABI)
Pengamat KUHP (Kebijakan Umum Hukum dan Politik)
*_(Ikhtisar, Iran melawan Israil dan sekutu analogi peperangan euforia ideologi duniawi versus doktrinisasi proses kehidupan yang mulia atau mati syahid)_*
*Pendahuluan*
Praktik teori dan pelaksanaan Iran menyerang Israil dan Pangkalan Amerika Serikat/ AS dimata dunia internasional adalah Paradoks, sementara AS- Israil jelas dikecam oleh mayoritas masyarakat muslim dunia walau negara masing-masing golongan identitas muslim terikat kerjasama pertahanan termasuk didalamnya terikat dalam BoP, atau AS dikecam warga negara yang justru negara mereka sendiri telah menyewakan pulaunya untuk pangkalan AS bahkan di negeri AS dan negara negara sekutu sendiri muncul gambaran dari sekian banyak warta dunia dalam betuk reel (video pendek) bah mengutuk protes kepada kebijakan AS (Trump). Sehingga peperangan kontempoter yang melibatkan Iran dari sisi opini publik internasional adalah paradoks versus AS yang dikecam.
*Perang kontemporer Iran vs Israil cikal bakal perang dunia ke 3 ?*
Semua jenis perang antara negara, relatif adalah cikal bakal perang yang bisa meluas bahkan bisa terjadi perang dunia ketiga (ke-3) namun perang dunia ke 3 tidak bakal terjadi serta merta pada akhir tahun ini sampai dengan akhir tahun 2027. Karena tanda-tanda Russia-China yang memiliki garis pandang pro Iran dalam politik internasional di timur tengah, justru vokal berharap terjadi de-eskalasi militeris dari kedua belah pihak yang berperang, dan publik internasional bisa mengamati bahwa kedua negara posisi puncak kekuatan dunia yang pro Iran nyata tidak menurunkan pasukan darat, udara maupun lautnya untuk hadir on the spot di lokasi pertikaian membantu tentara Iran membombardir negara zionis Israil, atau belum ada sekalipun triger dari militer Russia dan China sebagai wujud nyata keberpihakan dalam peperangan yang tengah berkecamuk dalam bentuk serangan militer mereka (Russia-China) secara fisik ke pangkalan AS di zona negara negara Timur Tengah, begitupun sebaliknya blok AS dan sekutu setianya Inggris tidak aktif langsung menyerang Iran lewat pasukan darat yang diketahui mumpuni andai mau.
Kedua negara Super Power Russia-Amerika akan mencegah perang frontal dan terbuka antara keduanya, dikarenakan tentunya blok AS dan sekutunya Inggris dan prancis juga punya rasa kekhawatiran yang tinggi bakal berbalas kahancuran total bangsa Yahudi dan negara zionis jika tentara mereka dan sekutu, serius aktif menyerang totalitas negara Iran dengan misil rudal antar benua terlebih gunakan hulu ledak nuklir ? Maka diyakini kedua negara "akan rata dengan tanah lalu terimbun pasir gurun."
Lalu seiring perang bakal frontal meluas melanda Asia Tengah termasuk perang India dan Pakistan, bahkan oleh sebab hati nurani dan pertanggungjawaban moralitas idenitas doktrinisasi kepercayaan golongan dan Historis Turki (agama dan faktor sejarah masa keemasan Turki), kuat kemungkinan saat mendekati atau seiring perang lebih besar dan meluas Turkey pada waktunya akan terpaksa menyatakan keluar dari NATO oleh sebab desakan hebat masyarakat bangsanya.
*Indikator Awali Perang Dunia yang kali ke 3 ?*
Andai eskalasi perang Iran menapak ke peperangan yang ditandai lebih dulu lahir beberapa pemicu bak bunga perang, dan Turki sudah resmi menyatakan keluar dari Nato, lalu indikator lainnya; negara negara pro kontra peperangan antara Iran vs Israil-Amerika sudah tidak lagi menyuarakan de-eskalasi perang, ini lah indikator perang Iran (Islam) yang menjelma lahirnya perang dunia ke III.
Maka untuk saat ini, gambaran munculnya perang dunia ke 3 (III) masih dini, masih jauh, belum bakal terjadi selain suara keras masih tendensi ke re eskalasi juga disebabkan negara negara adidaya tahu bahwa perang dunia ketiga berdasarkan pengalaman perang dunia I dan II justru berdampak kehancuran yang berkepanjangan, minimal satu atau dua dekade tidak hanya terhadap negara negara terlibat langsung peperengan, namun include ke negara negara yang pasif namun nyata tersisip pro- kontra (keberpihakan) dari dialogis (diskusrsus politik) politik luar negeri mereka, terhadap isu perang yang transparansi terkait agenda politik ekonomi upaya bisnis demi meraup keuntungan dari negara selaku adidaya dan sekutu (simbiosis), namun sebaliknya mereka justru krodit bagi kas negara kedua belah pihak masing masing pendukung, karena ikut membiayai perang untuk sekutunya (Israil atau sebaliknya Iran).
Akibat gelombang besar implikasi protes masyarakat masing masing warga negara terhadap penguasa pemerintahan yang pro atau kontra atau terlebih sebelumnya beberapa memang antipati terhadap negara "blok timur dan blok barat" sehingga mendirikan negara berbasis netral (non blok), karena negara blok vs seterunya hobi memicu peperangan regional dan internasional, maka bakal tiba momentum gejolak protes dari 7 negara muslim karena dampak realitas perang, lalu menuai sikon gelombang protes yang membahayakan singgasana dan persatuan bangsa-bangsa termasuk ada situasis politik internasional presiden dan para raja bakal keluar sebagai anggota BoP dan dari blok persekutuan NATO.
Selanjutnya sesuai analisis penulis, dari gejala-gejala yang di rilis dalam artikel, mungkin mendahului atau seiring pecahnya Perang Dunia yang inklusi (mencakup) diantaranya apabila muncul fenomena kondisional:
1. *Tingkat ketegangan geopolitik yang tinggi*: Konflik antara negara-negara besar seperti AS, Cina, dan Rusia bisa memicu eskalasi.
2. *Persaingan sumber daya alam semakin keras*: Perebutan sumber daya seperti minyak, gas, dan air bisa menjadi pemicu.
3. *Serangan siber*: Serangan siber kekinian yang canggih semakin meningkat memicu konflik besar.
4. *Proliferasi senjata nuklir*: Penyebaran dan pertumbuhan produksi senjata nuklir ke negara-negara lain pro kontra bisa meningkatkan risiko konflik nuklir kedepannya.
Tapi, semua pengamatan ini tentu merupakan spekulasi, karena banyak faktor lain yang bisa mempengaruhi, merujuk sejarah pra peperangan sejak ala zaman Yunani kuno juga Romawi sampai dengan awal terjadinya perang dunia I dan ke II, data empirik klasik, biasanya diawali dari eksistensi bad character segelintir pemimpin bangsa kuat yang ego sentris (kurang empati) terhadap resiko peperangan, oleh karenanya negara dengan sosok penguasa buruk yang menganggap jika ada negara diantara lawannya yang terlibat perang, dipersepsikan otomatis sebagai pesaing yang mengancam kekuatan dan hasrat kekuasaannya, maka mesti dihancurkan melalui keterlibatan peperangan, sehingga lazim diantara negara diantara negara seteru yang terlibat perang, substansial hanya demi kepentingan memeprtshankan kekuasaan dan kekuatan serta mendapatkan keuntungan yang lebih besar, sambil memperluas luas wilayah pengaruh kekuasaan, polanya saling mencari mengikat dukungan kekuatan disertai traktat berbagi kekuasaan bersama para pemimpin negara sekutu-nya.
Yang jelas pasca perang akan berlanjut model perang dingin antar pihak yang bertikai, semua akan menurunkan tensi lalu kembali saling serang sesekali diikuti alasan pembenaran, sambil lran prioritas mengevaluasi khususnya mesin perang peluncur misil dan rudal jarak jauh lalu mengoptimalkan jarak jangkauan termasuk tingkat presisinya dan daya hancur (destroyer) pada titik rancangan negara-negara lawan politis mereka, Iran juga potensi bakal menimbun stock produksi misil dan peluru kendali jarak jauh dan sedang denga berjumlah belipat-lipat sebagai preparing amunisi militer menghadapi perang yang bakal kembali terjadi serta memakan waktu yang lebih lama dan tentang 'bakal perang kembali' adalah relatif kepastian atau sebuah kemungkinan besar, denhan catatan jika tabiat buruk politik zionis tidak berubah kepada bangsa Palestine, termasuk ketamakan penguasa negara negara super power yang impreaisme terus berlanjut (liberalis-sekuleris), dengan misi utamanya spesial berlomba menguras harta barang tambang milik negara negara ketiga atau negara negara berkembang yang tidak peduli terhadap faktor kesejahteraan setiap insan yang ada di negara blok dsn nin blok atau dunia ketiga, tidak peduli kapada faktor akibat nafsu keuntungan dan kekuasaan, bahwa peperangan bakal berimplikasi kepada kehancuran eko sistim terhadap kerusakan kelangsungan kehidupan manusia dan lingkungan alam dan perang dipastikan banyak menimbulkan korban pelanggaran HAM.
Dan perlu diketahui perang perlawanan yang dilancarkan pemerintah negara Iran dan mayoritas publik "bangsa Iran" kontemporer, dan peperangan lanjutan kedepannya daripada bangsa bangsa negara negara sekutu Iran substantif merepresentasikan kewajiban moraitas sebagai wujud kebulatan tekad oleh sebab semata melaksakan prinsip doktrinisasi demi menuju hakekat pencapaian kehidupan pasca kematian yang mulia (syahid), sekalipun langit harus runtuh.
*Kapan pecah perang dunia yang ketiga kalinya ?*
Pastinya saat penguasa di negara sudah merasa berada dipuncak kekuataan dan kekuasaan, kemudian mencapai titik klimaks egosentris, atau tepatnya disebut sebagai bias egosentrisme emosional atau fabel personal (personal fable) dirinya sebagai pemimpin sudah mengklaim diri selaku pemimpin dunia serta memiliki serba kewenangan, kultuskan diri seolah menjadi tuhan kecil, punya hak tertinggi pengontrol hajat kehidupan seluruh manusia lintas bangsa dan negara- negara di dunia (polisi dunia), maka absolut perang bakal terus berpeluang sampai dunia yang ekosistim tersebut rusak parah...then the world will end (kiamat).
*Kesimpulan*
Perang dunia ke tiga sebagai lanjutan fase perang dunia ke 2, bakal tidak pernah terjadi lagi, karena hitungan perang dunia ke 4 adalah mimpi, namun realitas perang akan terjadi untuk ketiga kalinya, dan selayaknya berganti sebutannya menjadi perang penutup perang, sebuah perang maha dahsyat, dengan indikasi awal pasca pemerintah Iran resmi mengumumkan ke masyarakat dunia, "bahwa rudal Iran sudah sanggup mencapai jarak 18.000 sampai dengan 20. 000 KM dan presisi sampai ke ujung tengah kota di negara bagian Amerika Serikat", artinya Iran otomatis patut dianggap klaster kekuatan (power cluster) dan menjadikan Iran faktor penyeimbang yang mewakili negara ketiga dan atau negara berkembang, karena Iran telah memiliki poweritas yang sama dengan kelompok negara adidaya (Russia, AS dan China) dengan bukti-bukti Iran telah memiliki fasilitas perang super extra destoyer (diatas ukuran dan kemampuan dan tekhnolgi alat perang penghancur standar) dengan stock amunisi ektra jumlah untuk preparing waktu bertahun tahun peperangan serta kesemua kèbutuhan perang telah melebihi destroyer konvensional.
*Penutup*
Al hasil didasari kekuatan fasilitas canggih militer yang (telah nyata) berimbang dalam hubungan hakekat identitas dan fanatisme pemahaman doktrinisai persaudaraan, tentu mengakui dan menyimpulkan Iran implementasi kekuatan muslim melawan dalam perspektif kekuatan blok Barat, maka layak dinyatakan secara tegas jika ada perang ke 3 adalah perang penutup yang bakal menjelma antara "kekuatan Islam melawan Musuh Islam", selanjutnya dunia hasil perang penutup, hanya menyisakan dua pilihan, *_pertama_* kehidupan seluruh bangsa di dunia aman dan harmonis, berkeadilan dan sejahtera, atau alternatif *_kedua_* doomsday !
Sumber: faktakini.info
Bagaimana menurut anda saudaraku, mari tinggalkan jejak di kolom komentar dan jangan lupa untuk share berita ini agar yang lain tahu.

Posting Komentar