Tentang Abdul Nasher Politikus Wahabi Yaman yang Dikutip Imad untuk Serang Nasab Ba'alawi
Jum'at, 11 September 2026
Faktakini.info
M Maki
Saya mau bahas satu hal yang menurut saya agak menggelitik dari cara kerja Kiai Imaduddin Utsman Al-Bantani dalam menyimpulkan bahwa nasab Ba’alwi batal. Kiai Imad ini punya standar yang sangat tinggi, dia menuntut adanya kitab sezaman dari abad ke-4 sampai ke-5 Hijriyah untuk membuktikan bahwa Ubaidillah itu benar-benar anak Ahmad bin Isa. Kalau tidak ada, ya dia anggap batal, titik. Tapi anehnya, ketika saya lacak siapa saja yang dia kutip dan jadikan bahan untuk memperkuat tesisnya, saya menemukan sosok yang sama sekali tidak punya otoritas dalam ilmu nasab.
Salah satu sumber yang dia pakai adalah pernyataan dari seorang tokoh Yaman bernama Abdul Nasher bin Hamad Al-Audzali, seorang mantan anggota Dewan Revolusi Houthi yang kemudian membelot dan sekarang jadi politikus di koalisi Yaman Selatan. Latar belakangnya murni politik dan militer, bukan ahli nasab, bukan ulama dan bukan bagian dari lembaga pencatat nasab mana pun.
Jadi, ketika Kiai Imad menuduh Ba’alwi tidak punya bukti sezaman, tapi di sisi lain dia memakai pernyataan seorang politikus yang jelas punya kepentingan untuk menyerang lawan politiknya, di situ saya mulai merasa ada yang tidak konsisten dari cara berpikirnya.
Nah, coba kita lihat isi cuitan Abdul Nasher ini. Pada 10 Oktober 2022, dia menulis di Twitter, Sampaikan cuitan saya ini kepada Habib Ali al-Jufri: Saya Pangeran Abdul Nasher bin Hammad bin Ahmad bin Ali bin Qasim bin Ahmad bin Al-Hasan bin Al-Haitami bin Amir bin Abdulwahhab al-Tahiri, cucu Sultan al-Awadzil, mengingkari nasab Ali al-Jufri sebagai keturunan Ahlul Bait Nabi. Jika nasabnya terbukti terverifikasi setelah tes DNA, saya siap menanggung konsekuensi hukum apa pun. Dia menantang tes DNA, tapi sampai sekarang tidak ada bukti bahwa tes DNA itu pernah dilakukan atau hasilnya dipublikasikan.
Yang lebih kocak, di cuitan lain dia juga menyerang Ayatollah Ali Khamenei dengan mengutip fatwa Sayyid Khomeini dalam kitab Tahrir al-Wasilah tentang kebolehan sentuhan syahwat pada bayi yang masih menyusui, lalu menempelkannya pada foto Khamenei yang sedang menggendong anak.
Padahal foto itu aslinya dipakai Khamenei untuk mengkritik aksi supremasi kulit putih di Amerika, bukan untuk menunjukkan dukungan pada fatwa tersebut. Ini jelas taktik guilt by association yang sangat kotor dan tidak ada hubungannya sama sekali dengan isu nasab.
Btw, kalau kita lihat lebih jauh, pola serangan Abdul Nasher ini gak cuma ke Habib Ali al-Jufri atau sayyid Khamenei. Dia juga menyerang Imam Yahya Hamid al-Din, mantan raja Yaman, dengan tuduhan sebagai pemabuk dan tiran. Dia menyerang Houthi dengan narasi sesat dan hasutan. Dia bahkan menyebarkan konspirasi tanpa bukti bahwa Khomeini didukung Saddam Hussein dan Zionis.
Jadi jelas, dia ini murni buzzer politik yang menyerang siapa saja yang berseberangan dengannya. Dan di sinilah letak keserampangan Kiai Imad. Dia menuntut bukti sejarah yang super ketat dari Ba’alwi, tapi untuk memperkuat argumennya sendiri, dia memakai cuitan politikus yang bukan ahli nasab, tidak punya otoritas, dan jelas sedang berkonflik politik di Yaman.
Heran saya dengan ki imad malah mengutip provokator politik yang cuitannya penuh dengan serangan ad hominem dan fitnah. Bener kata pepatah, jangan menuntut orang lain dengan standar yang kita sendiri tidak mampu memenuhinya.
Sumber: faktakini.info
Bagaimana menurut anda saudaraku, mari tinggalkan jejak di kolom komentar dan jangan lupa untuk share berita ini agar yang lain tahu.
Posting Komentar