Blunder Imad Semakin Fatal: Habib Bugak Al Habsyi Al Asyi Dituding Bukan Ba’alawi, Ini Letak Ketololan Imad
Kamis, 21 Mei 2026
Faktakini.info, Jakarta - Jagat media sosial kembali diramaikan dengan narasi yang memelintir sejarah dan nasab ulama Nusantara. Kali ini, Imaduddin bin Sarmana bin Arsa PWI-LS alias tokoh sekte pembenci habaib, kembali membuat hoax dan framing liar dengan menyebut Habib Bugak Al Asyi bukan bagian dari Ba’alawi Alawiyyin.
Narasi tersebut langsung menuai kritik dari berbagai kalangan, khususnya masyarakat Aceh dan para keturunan Habib Bugak Al Asyi. Sebab, tudingan itu dianggap lahir dari ketidakpahaman terhadap tradisi penamaan, nisbah, dan marga dalam tradisi Arab-Hadramaut.
Dalam berbagai literatur dan penjelasan keluarga, sosok yang dikenal sebagai Habib Bugak Al Asyi memiliki nama Habib Abdurrahman bin Alwi Al Habsyi. Kata “Bugak” sendiri merujuk pada nama desa di Aceh Utara, sedangkan “Al-Asyi” adalah nisbah geografis yang berarti berasal dari Aceh (Asyi/Asheh).
Sementara itu, “Al-Habsyi” adalah nama marga Ba’alawi yang sudah dikenal luas dalam tradisi keturunan Nabi Muhammad SAW di Hadramaut.
Kalau Imad berziarah ke makam Habib Bugak di Aceh dan matanya sehat, dia akan busa membaca sendiri nama lengkap Habib Bugak di gapura dan batu nisan makamnya: Habib Abdurrahman bin Alwi bin Syekh bin Ahmad bin Hasyim Al Habsyi.
Karena itu, para pemerhati sejarah menilai tudingan Imad sangat dangkal karena gagal membedakan antara nisbah wilayah dan nama marga keluarga.
Dalam tradisi Arab, satu orang memang sangat lazim memiliki beberapa identitas sekaligus, seperti:
marga keluarga,
nisbah daerah,
kunyah,
hingga laqab.
Karena itu, seseorang bisa saja:
bermarga Al-Habsyi,
tetapi dikenal dengan julukan Al-Asyi karena berasal atau berkiprah di Aceh.
Hal semacam ini bukan sesuatu yang aneh.
Contohnya:
Habib Sholeh bin Muchsin Al-Hamid dikenal sebagai “Habib Sholeh Tanggul” karena tinggal di Tanggul, Jember.
Habib Abubakar bin Muhammad Assegaf dikenal dengan “Habib Abubakar Gresik”.
Habib Hasan bin Muhammad Al-Haddad dikenal sebagai “Mbah Priok” karena wafat di Tanjung Priok.
Mereka semua tetap Ba’alawi, meskipun memiliki penisbatan wilayah tertentu.
Demikian pula dengan Habib Bugak Al Asyi: “Bugak” adalah nama kampungnya, “Al-Asyi” menunjukkan asal Acehnya, sedangkan marganya tetap Al-Habsyi.
Bahkan dalam tradisi ulama Hadramaut dikenal banyak nisbah seperti:
Al-Makki (tinggal di Makkah),
Al-Jawi (berasal dari Nusantara),
Al-Batavi (Batavia),
hingga Al-Asyi (Aceh).
Karena itu, tudingan bahwa Habib Bugak Al Asyi bukan Ba’alawi tidak memiliki dasar ilmiah yang kuat dan hanya propaganda media sosial berdasar iri hati dan kedengkian Imad terhadap nasab mulia Ba'alawi, dzurriyah Rasulullah SAW.
Apalagi, berbagai sumber dan keluarga keturunan Habib Bugak sendiri telah menjelaskan bahwa beliau adalah Habib Abdurrahman bin Alwi Al-Habsyi yang berasal dari Aceh dan menetap di Makkah sekitar abad ke-18 hingga awal abad ke-19.
Dalam sejumlah keterangan sejarah disebutkan bahwa Habib Bugak berangkat haji dari Aceh sekitar tahun 1200 Hijriah dan kemudian menetap di Makkah untuk belajar agama di Masjidil Haram sekaligus berdagang. Dari hasil usahanya itu, beliau memiliki aset dan tanah wakaf yang sangat besar di Tanah Suci.
Wakaf Habib Bugak Al Asyi hingga kini masih sangat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat Aceh yang datang ke Saudi Arabia, khususnya jamaah haji dan umrah.
Di antara manfaat wakaf tersebut antara lain:
membantu akomodasi jamaah Aceh di Makkah,
membantu kebutuhan logistik dan pelayanan jamaah,
menjadi sumber dana sosial untuk masyarakat Aceh,
membantu pendidikan dan pembinaan masyarakat Aceh di Tanah Suci,
hingga pembagian hasil wakaf bagi masyarakat Aceh melalui lembaga pengelola terkait.
Wakaf Habib Bugak Al Asyi bahkan dikenal sebagai salah satu wakaf terbesar milik putra Aceh di Makkah dan menjadi kebanggaan masyarakat Aceh hingga hari ini.
Karena jasa besar itulah, nama Habib Bugak Al Asyi sangat dicintai masyarakat Aceh. Banyak pihak menilai munculnya serangan Imad dan komplotan begal nasabnya terhadap nasab beliau lebih didorong rasa hasad dan kebencian terhadap habaib ketimbang kajian ilmiah yang objektif.
Salah satu keturunan beliau, Sayyid Dahlan Al Habsyi selaku pendiri Yayasan Habib Bugak Al Asyi, juga pernah mengingatkan masyarakat agar tidak mudah percaya pada tulisan liar dan framing media sosial yang berupaya menghapus sejarah dan identitas Habib Bugak Al Asyi.
Masyarakat pun diminta lebih bijak serta merujuk pada sumber sejarah dan keluarga keturunan yang jelas, bukan propaganda provokatif yang beredar di media sosial.
Sumber: faktakini.info
Bagaimana menurut anda saudaraku, mari tinggalkan jejak di kolom komentar dan jangan lupa untuk share berita ini agar yang lain tahu.






Posting Komentar