-->

WAHABI TIAP HARI TAWASUL SAMA ORANG MENINGGAL

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakutuh. Apa kabar saudaraku semua, semoga selalu berada di bawah lindungan Allah SWT. Berikut kabar update terbaru mengenai WAHABI TIAP HARI TAWASUL SAMA ORANG MENINGGAL. Silakan disimak.

 


Sabtu, 15 April 2026

Faktakini.info

WAHABI TIAP HARI TAWASUL SAMA ORANG MENINGGAL

Aneh tapi nyata. Setiap hari melarang tawasul dengan orang yang sudah meninggal, tapi dalam sholat sendiri justru melakukan hal yang serupa.

Coba jujur. Dalam tahiyat akhir, semua membaca shalawat Ibrahimiyah. Di dalamnya disebut Nabi Muhammad dan Nabi Ibrahim, yang keduanya sudah wafat.

Pertanyaannya sederhana: kenapa nama beliau dimasukkan dalam doa? Kenapa tidak langsung saja berdoa kepada Allah tanpa menyebut mereka?

Kalau jawabannya karena itu perintah Nabi, justru itu menunjukkan bahwa menyebut orang-orang shalih dalam doa adalah bagian dari ajaran Islam, bukan sesuatu yang terlarang.

Namun di sisi lain, sering dikatakan bahwa tidak boleh tawasul dengan orang yang sudah meninggal. Padahal praktik yang dilakukan setiap hari menunjukkan hal yang berbeda. Membaca shalawat itu adalah amal shalih, sekaligus menyebut dan memuliakan Nabi. Itu adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah.

Kalau masih bersikeras mengatakan itu bukan tawasul, berarti ada masalah pada pemahaman istilah atau terjadi standar ganda. Sebab hakikat tawasul adalah menjadikan sesuatu sebagai sarana untuk mendekat kepada Allah, bukan menyembah selain-Nya dan bukan meminta kepada selain Allah.

Perlu diluruskan, tawasul tidak berarti menyembah Nabi. Tawasul juga bukan meminta kepada selain Allah. Semua doa tetap ditujukan hanya kepada Allah. Nabi hanya dimuliakan dan disebut sebagai bagian dari ibadah yang diperintahkan

Ketika mengatakan tawasul hanya boleh dengan amal shalih, maka shalawat jelas termasuk amal shalih. Dan di dalamnya ada penyebutan Nabi. Maka secara tidak langsung, itu juga mengandung unsur tawasul dengan Nabi dalam makna wasilah, bukan sebagai tujuan.

Intinya sederhana. Tidak mungkin meninggalkan shalawat karena itu bagian dari sholat. Maka yang lebih konsisten adalah mengakui bahwa konsep tawasul memang ada dalam syariat, hanya berbeda dalam cara memahaminya.

Masalah utamanya bukan pada dalil, tetapi pada cara memahami. Kehati-hatian dalam menjaga tauhid itu baik, tetapi jika sampai menolak sesuatu yang sebenarnya dilakukan setiap hari, itu justru menimbulkan kontradiksi.

Jadi sebelum menyalahkan orang lain, sebaiknya dijawab dulu: kenapa Allah memerintahkan shalawat yang di dalamnya menyebut Nabi? Kenapa itu dijadikan bagian dari doa dalam sholat?

Kalau itu bukan bentuk pendekatan diri kepada Allah, lalu apa namanya.


Sumber: faktakini.info
Bagaimana menurut anda saudaraku, mari tinggalkan jejak di kolom komentar dan jangan lupa untuk share berita ini agar yang lain tahu.