PELINTIR SEJARAH, MENGIDAP AMNESIA: MEMBONGKAR FITNAH MURAHAN "RABITHAH ALAWIYAH BENTUKAN BELANDA"
Ahad, 19 April 2026
Faktakini.info
PELINTIR SEJARAH, MENGIDAP AMNESIA: MEMBONGKAR FITNAH MURAHAN "RABITHAH ALAWIYAH BENTUKAN BELANDA"
Belakangan ini, jagat digital diramaikan oleh narasi "sampah" yang mencoba menulis ulang sejarah dengan tinta kebencian. Muncul tuduhan konyol bahwa Rabithah Alawiyah (RA) adalah bentukan intelijen Belanda tahun 1928 untuk menghancurkan Nahdlatul Ulama (NU). Narasi ini bukan sekadar diskusi sejarah, melainkan proyeksi dari mereka yang menuduh orang lain memalsukan sejarah, padahal mereka sendirilah pelakunya.
Mari kita preteli kebodohan narasi tersebut satu per satu:
1. Logika "Cacat" Administrasi Kolonial
Para penyebar fitnah ini mengklaim RA buatan Belanda hanya karena mendapat izin operasional (rechtspersoon) pada 1928. Ini adalah puncak kebodohan dalam memahami sejarah. Jika setiap organisasi yang berizin di masa kolonial dianggap antek penjajah, maka Muhammadiyah, Serikat Islam, hingga NU sendiri—yang berbadan hukum tahun 1930—harus mereka tuduh sebagai buatan Belanda.
Faktanya, Belanda justru ketakutan terhadap pengaruh Habaib yang mampu menggerakkan massa melalui dakwah. Legalitas administratif bukan berarti kolaborasi ideologis.
2. Menghina Intelektualitas Pendiri NU
Dengan menuduh RA sebagai alat Belanda untuk menghancurkan NU, para penyebar hoaks ini secara tidak langsung sedang menghina KH. Hasyim Asy’ari dan para pendiri NU lainnya. Mereka seolah-olah menganggap para kiai besar kita dulu begitu lugu dan bodoh sampai bisa disusupi dan dibodohi oleh "agenda Belanda" selama satu abad.
Sejarah justru mencatat hubungan harmonis dan saling dukung antara ulama Nusantara dan Habaib dalam melawan penjajah. Narasi konspirasi ini adalah penghinaan terhadap kewaskitaan para guru bangsa kita.
3. Proyeksi Si Maling Teriak Maling
Tuduhan bahwa Habaib memalsukan silsilah dan sejarah adalah bentuk proyeksi. Mereka yang paling lantang menuduh "pemalsuan" justru sedang melakukan operasi pemalsuan sejarah yang nyata saat ini.
Mereka membuang konsensus ulama dunia selama ratusan tahun.
Mereka menciptakan narasi fiksi tentang keterlibatan Belanda tanpa bukti dokumen satu lembar pun.
Mereka membenturkan sesama Muslim dengan sentimen rasis yang tidak laku di zaman modern.
4. "Devide et Impera" Versi Baru
Ironisnya, pembuat narasi tersebut menuduh orang lain menggunakan taktik pecah belah Belanda, padahal dialah yang sedang mempraktikkan Devide et Impera. Dengan mencoba memisahkan umat dari gurunya dan mencurigai satu etnis tertentu, mereka sedang menjalankan agenda penjajah yang paling sempurna: membuat bangsa ini hancur dari dalam karena saling benci.
Kesimpulan untuk Para Pelintir Sejarah:
Berhentilah bersembunyi di balik jubah "kajian ilmiah" jika yang kalian produksi hanyalah fitnah dan cocokologi murahan. Sejarah tidak ditulis oleh kebencian, tapi oleh fakta. Jangan sampai penyakit hati kalian membuat kalian menjadi "Maling Sejarah yang Teriak Maling".
Pembelajaran: Kebenaran tidak butuh cacian, tapi fitnah selalu butuh narasi yang bombastis. Cek setiap klaim sejarah ke sumber primer dan jurnal akademis yang kredibel.
Daftar Referensi Data:
Arsip Nasional RI: Catatan Besluit (Keputusan) Pemerintah Hindia Belanda tahun 1928 tentang pengesahan badan hukum organisasi sosial-keagamaan.
L.W.C. van den Berg (1886): Le Hadhramaout et les Colonies Arabes dans l'Archipel Indien. (Data primer pengamatan Belanda terhadap komunitas Arab).
H. J. de Graaf: Geschiedenis van Indonesië. (Catatan tentang kebijakan Belanda membatasi pergerakan etnis non-pribumi).
AD/ART Rabithah Alawiyah (1928): Dokumen pendirian yang fokus pada pendidikan dan sosial, bukan politik tandingan.
Sumber: faktakini.info
Bagaimana menurut anda saudaraku, mari tinggalkan jejak di kolom komentar dan jangan lupa untuk share berita ini agar yang lain tahu.

Posting Komentar