-->

Syair Al-Mutanabbi dan Buruk Sangka Sekte Imad ke Habaib: Cermin Diri Orang Curang Selalu Menuduh Orang Lain Curang Juga

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakutuh. Apa kabar saudaraku semua, semoga selalu berada di bawah lindungan Allah SWT. Berikut kabar update terbaru mengenai Syair Al-Mutanabbi dan Buruk Sangka Sekte Imad ke Habaib: Cermin Diri Orang Curang Selalu Menuduh Orang Lain Curang Juga. Silakan disimak.

 



Jum'at, 20 Februari 2026

Faktakini.info, Jakarta - Perdebatan mengenai nasab kerap kali bukan semata soal data sejarah, tetapi juga soal niat dan cara pandang. Dalam beberapa waktu terakhir, tudingan dari kelompok Sekte Imad PWI-LS (Orang-orang gila nasab) terhadap para habaib—khususnya terkait nasab Ba‘alawi—kembali dimunculkan. Imad cs menuduh adanya pemalsuan nasab, rekayasa kitab, hingga klaim sebagai keturunan Nabi Muhammad ﷺ demi kepentingan tertentu.

Tudingan semacam ini sejatinya telah berulang kali dijawab oleh para ahli nasab dan lembaga resmi yang berwenang. Namun, untuk memahami akar psikologis dari tuduhan-tuduhan tidak berdasar tersebut, menarik kiranya kita renungkan sebuah perkataan indah dari penyair besar Arab, Al-Mutanabbi:

إِذا ساءَ فِعلُ المَرءِ ساءَت ظُنونُهُ

وَصَدَّقَ ما يَعتادُهُ مِن تَوَهُّمِ

Artinya:

“Apabila buruk perbuatan seseorang, maka buruk pula prasangkanya; dan kebiasaannya akan menjadi alat legitimasi atas dugaan-dugaan buruknya.”

Cermin Jiwa dalam Prasangka

Maksud dari syair tersebut sangat dalam. Seseorang yang hatinya rusak dan amalnya buruk cenderung mudah berprasangka buruk kepada orang lain. Ia menilai orang lain dengan cermin dirinya sendiri. Jika ia terbiasa curang, maka ia pun menganggap orang lain curang. Jika ia terbiasa memanipulasi, ia pun menuduh orang lain memanipulasi.

Dalam konteks tudingan terhadap habaib, pola ini tampak jelas. Tuduhan Imaduddin bin Sarmana bin Arsa beserta gerombolannya bahwa habaib memalsukan nasab atau kitab sering kali tidak dibangun di atas metodologi ilmiah yang kuat, melainkan asumsi, potongan informasi, dan spekulasi. Padahal, nasab Ba‘alawi telah dikenal luas dan diakui secara turun-temurun dalam disiplin ilmu nasab Islam.

Nasab Ba‘alawi dan Ijma’ Ahlul Nasab

Nasab Ba‘alawi—yang bersambung kepada Sayyidina Husain bin Ali radhiyallahu ‘anhuma—bukanlah klaim sepihak. Ia tercatat dalam berbagai karya ulama nasab klasik dan modern, serta diakui oleh para naqib (pemangku otoritas nasab) di berbagai negeri Muslim.

Pengakuan ini bersifat mutawatir—yakni diriwayatkan dan diterima secara luas oleh banyak jalur dan generasi—sehingga mencapai derajat keyakinan yang kuat dalam tradisi keilmuan Islam. Dalam disiplin ilmu nasab, kesinambungan riwayat keluarga, dokumen, pengakuan para ahli, serta konsensus para naqobah menjadi fondasi penting.

Karena itu, menuduh pemalsuan secara umum tanpa menghadirkan bukti ilmiah yang sahih justru menunjukkan kelemahan metodologis dari pihak penuduh.

Antara Kritik Ilmiah dan Kebencian Ideologis

Perlu dibedakan antara kritik ilmiah dan kebencian ideologis. Kritik ilmiah dilakukan dengan adab, data, dan kaidah yang jelas. Ia terbuka untuk diuji dan diuji ulang. Sedangkan kebencian ideologis berangkat dari sentimen, lalu mencari-cari pembenaran.

Apabila tudingan lahir dari pola pikir yang telah dipenuhi prasangka, maka ia bukan lagi pencarian kebenaran, melainkan upaya delegitimasi.

Syair Al-Mutanabbi di atas menjadi pengingat bahwa prasangka buruk Sekte Imad sering kali lebih mencerminkan kondisi batin penuduh daripada objek yang dituduh.

Penutup

Menjaga kehormatan nasab Rasulullah ﷺ adalah bagian dari menjaga kemuliaan sejarah umat. Namun, menjaga adab dalam perbedaan juga bagian dari akhlak Islam.

Jika ada persoalan, tempuhlah jalur ilmiah. Jika ada perbedaan, bahaslah dengan data dan adab. Sebab pada akhirnya, buruk sangka bukanlah dalil—ia hanyalah cermin dari apa yang ada di dalam diri.



Sumber: faktakini.info
Bagaimana menurut anda saudaraku, mari tinggalkan jejak di kolom komentar dan jangan lupa untuk share berita ini agar yang lain tahu.